Sekjen UNFCCC Optimistis Hasil Ambisius di Kopenhagen

Kompas.com - 07/12/2009, 01:55 WIB
KOPENHAGEN, KOMPAS.com - Sekretaris Eksekutif Konvensi Badan Dunia untuk Perubahan Iklim (UNFCCC), Yvo de Boer optimistis KTT Perubahan Iklim ke-15 akan menghasilkan kesepakatan internasional yang efektif dan ambisius.

Yvo de Boer dalam konferensi pers di Kopenhagen, Minggu (6/12), mengatakan, dalam waktu kurang dari dua minggu, negara-negara peserta konvensi UNFCCC harus memberikan respons yang memadai untuk tantangan penting dari perubahan iklim.

"Para negosiator sekarang mempunyai sinyal yang terkuat dari para pemimpin dunia untuk membuat proposal negosiasi bisa dilaksanakan dalam aksi," kata de Boer.

Merujuk pada beberapa janji pengurangan emisi yang telah dibuat oleh negara-negara maju dan berkembang pada pertemuan menjelang COP-15, dia mengatakan hal tersebut merupakan momentum politik yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menghasilkan kesepakatan yang ambisius di Kopenhagen.
     
"Belum pernah selama 17 tahun dalam perundingan iklim terdapat begitu banyak negara-negara yang telah mengonfirmasi janji penurunan emisi bersama," kata petinggi UNFCCC tersebut.

Oleh karena itu, de Boer mengatakan, konvensi di Kopenhagen telah menjadi titik balik respons internasional untuk perubahan iklim.

Ada tiga tahapan aksi bagi pemerintah yang harus dilakukan selama dua minggu konvensi yaitu implementasi yang cepat dan efektif untuk aksi segera pada perubahan iklim, komitmen yang tinggi untuk mengurangi dan membatasi emisi, termasuk pendanaan awal dan komitmen pendanaan jangka panjang, serta satu visi jangka panjang bersama untuk pembangunan rendah emisi di masa mendatang.

Ia mengatakan pada 2010, perlu segera dilakukannya aksi mendesak pada pengurangan emisi, adaptasi dari dampak
yang tidak terhindarkan dari perubahan iklim, pembiayaan yang cukup, teknologi, pengurangan emisi dari penggundulan hutan di negara berkembang (REDD) dan peningkatan kapasitas.

Negara-negara maju akan menyediakan pembiayaan segera untuk memenuhi paling tidak 10 miliar dolar AS per tahun sampai 2012 untuk membantu negara-negara berkembang untuk membuat dan meluncurkan strategi adaptasi dan pertumbuhan rendah emisi segera, serta membangun kapasitas internal.
 
Pada kesempatan yang sama, negara-negara maju perlu menunjukkan bagaimana keseriusan mereka dalam pembiayaan jangka panjang yang mungkin dan berlanjut, serta bagaimana komitmen jangka panjang mereka.
     
Ketua Kelompok Kerja Ad-hoc untuk Kerja Sama Jangka Panjang UNFCCC (Chair of the Ad Hoc Working Group on Long-term Cooperative Action under the Convention/AWG-LCA), Michael Zammit Cutajar mengatakan, KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen harus sukses mengantarkan janji UNFCCC, yang akan mengubah jalan semua negara melakukan aksi dan kerjasama untuk menangani perubahan iklim.
     
Berdasarkan Panel Antarpemerintah pada Perubahan Iklim (the Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC), pengurangan emisi bersama oleh negara-negara maju antara 25 - 40 persen dari emisi level 1990 pada 2020 untuk mengamankan dari dampak paling buruk dari perubahan iklim, dan target penurunan emisi paling tidak 50 persen pada 2050.

Meski IPCC telah menyatakan skenario tersebut, diprediksi hanya ada 50 persen peluang untuk menghindari konsekuensi bencana yang paling mengerikan akibat perubahan iklim.
     
Sedangkan Ketua Kelompok Kerja sama Komitmen Kedua Protokol Kyoto (the Ad Hoc Working Group on Further Commitments for Annex I Parties under the Kyoto Protocol), John Ashe mengatakan, ada dua hal yang perlu dilakukan yaitu perlunya peningkatan level komitmen negara-negara maju sesuai target masing-masing negara.

Selain itu dibutuhkannya suatu cara dan aturan yang dapat memantau secara cepat dari pencapaian target negara-negara maju, seperti mekanisme pasar karbon, serta penggunaan lahan dan pengalihan fungsi lahan (LULUCF).

KTT Perubahan Iklim yang digelar pada 7 - 18 Desember di Kopenhagen, Denmark, diperkirakan akan diikuti oleh lebih dari 15.000 partisipan, termasuk delegasi dari 192 negara.  Sekitar 60 kepala negara termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Amerika Barrack Obama, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Nikolas Zarkosky bakal menghadiri KTT Perubahan Iklim yang ke-15 tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau